NEWS

Manpatu Gerak Cepat PHM Kejar Produksi Migas Nasional

 Balikpapan - Proyek pengembangan Migas Manpatu sekarang ini terus bergerak cepat. Manpatu merupakan perusahaan milik PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM), telah mencapai peringkat penting, yaitu capaian struktur utama anjungan lepas pantai (jacket) yang telah resmi memasuki tahap load out dari fasilitas fabrikasi PT Meindo Elang Indah di Tanjung Pinang, Kepulauan Riau, (26/3/2026).


Capaian ini menjadi sebuah penanda bahwa proyek yang dikerjakan dengan skema fast track tersebut semakin mendekati fase instalasi yang ada di laut. Setelah load out, Jacket Manpatu akan segera menjalani tahapan sail away—yakni berlayar menuju lokasi pemasangan di perairan South Mahakam, sekitar 35km (kilometer) dari pesisir Balikpapan.

Awalnya adalah dari penemuan sumur eksplorasi Manpatu-1x pada awal 2022, proyek ini telah dirancang untuk menjadi proyek pengungkit produksi migas nasional. Tentu dengan kapasitas desain yang mencapai 80 MMSCFD, Manpatu ini diharapkan mampu untuk memperkuat pasokan gas sekaligus kondensat dari wilayah kerja Mahakam.

Secara teknis, proyek ini bukanlah pekerjaan kecil. Perusahaan PHM membangun satu anjungan baru lengkap dengan Jacket berbobot sekitar 1.380 ton dan topside dengan berat 1.100 ton, ditambah lagi jaringan pipa bawah laut sepanjang 2,5km. Tidak hanya itu, sebanyak 11 sumur pengembangan juga akan dibor untuk mengoptimalkan produksi dari lapangan ini.

General Manager PHM, Setyo Sapto Edi, menyatakan bahwa proyek Manpatu merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam menjaga keberlanjutan produksi migas nasional. Menurutnya, inovasi dan penerapan teknologi terbaik menjadi kunci untuk menjawab tantangan lapangan yang semakin kompleks.

Tidak sekadar mengejar target produksi, proyek ini juga telah mencatatkan capaian penting dalam aspek Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Capaian ini adalah untuk pertama kalinya di area Mahakam, PHM mengimplementasikan penggunaan pipa lokal berbasis teknologi Electric Resistance Welding (ERW) secara menyeluruh, mulai dari subsea hingga riser.

Di sisi keselamatan kerja, proyek ini telah menunjukkan performa yang impresif. Hingga sapai bulan Maret 2026 ini, Manpatu sudah mencatat sebanyak lebih dari dua juta jam kerja tanpa insiden kehilangan waktu kerja (Lost Time Incident). Capaian Angka ini diproyeksikan terus meningkat hingga melampaui tiga juta jam kerja saat proyek selesai.

Kecepatan eksekusi atau keputusan menjadi ciri khas proyek ini. Dengan jadwal ketat sejak fase penemuan, perusahaan PHM mengandalkan kolaborasi erat dengan para kontraktor Engineering, Procurement, Supply, Construction, and Commissioning (EPSCC). Sinergi tersebut adalah menjadi faktor krusial agar proyek tetap berada di jalur waktu yang telah ditetapkan.

Setelah Jacket, proses berikutnya adalah load out dan sail away topside yang dijadwalkan pada pertengahan April 2026. Instalasi keseluruhan platform ditargetkan berlangsung pada April hingga Mei 2026, harapannya adalah fasilitas sudah terpasang di lapangan pada awal kuartal III 2026.

Jika semua berjalan sesuai prosedur rencana, Proyek Manpatu akan mulai berproduksi (onstream) pada kuartal I 2027—menjadi kontribusi nyata bagi upaya menjaga ketahanan energi nasional di tengah tantangan penurunan produksi dari lapangan-lapangan tua.

Lebih dari sekadar proyek migas, Manpatu mencerminkan strategi Pertamina dalam mempercepat monetisasi temuan baru melalui inovasi, efisiensi, dan kolaborasi lintas pemangku kepentingan. Sebuah langkah konkret menuju energi yang lebih tangguh untuk Indonesia.

Latest News
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Post a Comment